Mrbilly’s Weblog

Dari : Randy Hari Widialaksono

Team Ganesha ANT berhasil meraih penghargaan tertinggi dari Japan
Society of Information and Communication, IEICE, pada lomba perancangan
chip: LSI-Design Contest 2009.

Team Ganesha ANT, yang merupakan mahasiswa STEI ITB: Tyson, Aisar L. Romas, dan R. Siti Intan, berhasil menyisihkan finalis dari universitas ternama di Jepang dan Korea. Team Ganesha ANT mengajukan rancangan prosesor baru yang dapat mengeksekusi proses secara paralel, sehingga memiliki keunggulan dalam kecepatan proses dibanding prosesor yang umum dipakai sekarang. Hasil rancangan mereka berupa prototipe komputer kecil yang dapat menjalankan “Game Hangman”. Para juri sangat terkesan dengan inovasi baru dalam prosesor tersebut, sehingga diharapkan dapat diterapkan di Industri IT dan meningkatkan kinerja perangkat elektronika seperti Komputer, PDA, Smart Phone dan lain sebagainya. Teknologi prosesor biasanya dikuasai oleh industri-industri hi-tech, seperti Intel, Sun Microsystems, dan IBM.

Pada lomba yang sama, satu tim lagi, yaitu Team Zoiros, yang juga mahasiswa STEI ITB: Randy Hari Widialaksono, Ahmad Fajar Firdaus, dan Iman Prayudi, juga mendapat penghargaan dari Multinational Company, Xilinx® Award. Dengan rancangan prosesor mereka yang dapat bekerja pada kecepatan mencapai 1 GigaHertz, mereka berhasil menunjukkan keunggulan sistem dari berbagai peserta lainnya. Prototipe komputer mereka juga dapat
memperagakan kemampuan prosesor dalam menjalankan “Video Game Sokoban”. Kedua Tim dipersiapkan selama 6 bulan melalui kuliah perancangan chip di STEI ITB, oleh Dr. Trio Adiono. Lomba ini merupakan lomba tahunan bertaraf internasional yang diadakan di kota resort paling terkenal di Jepang, yaitu Okinawa. Para juri pada lomba ini berasal dari akademisi dan perusahaan-perusaha an terkenal di dunia elektronika internasional. Prestasi ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kompetensi yang tidak kalah dengan negara industri lainnya, khsususnya dalam industri microchip dan IT. Hal ini juga menunjukan kesiapan ITB dalam menuju institusi bertaraf internasional. Lomba ini ditujukan untuk melahirkan pakar-pakar perancang chip di daerah yang terkenal dengan industri elektronikanya, Jepang, Korea, China, Taiwan sampai dengan Singapura, dimana kebutuhan akan keahlian tersebut sangatlah tinggi. Keberangkatan tim juga didukung oleh Cisco Systems Indonesia dan Alumni ITB 75.

Republik Mimpi Diakui Dunia

Posted by: mrbilly on: Maret 21, 2009

JAKARTA(SINDO) — Kabar baik datang dari Program Republik Mimpi karya Effendi Gazali, Dedy N Hidayat,dan Pinkcey Triputra. Program yang tayang di stasiun RCTIsetiap Senin malam pukul 22.30 WIB ini terpilih bersama program-program lainnya untuk diputar dan didiskusikan di International Television Conference in Public Interest (INPUT) di Warsawa, Polandia, 10—15 Mei nanti. �Dari ribuan program TV dunia yang mereka amati setiap tahunnya, program Republik Mimpi terpilih bersama dengan beberapa program lain untuk diputar dan didiskusikan pada konferensi tahun ini,� ujar Effendi dalam rilis yang diterima SINDO. Effendi menuturkan, dia baru mengetahui kabar tersebut dari Asosiasi Pascasarjana Komunikasi Universitas Indonesia (UI) pada pekan lalu. Sebelumnya, Kurator Internasional asal Australia Graeme Isaac dan Kurator asal Afrika Selatan Jacqueline Rainers mengirim e-mail kepada Asosiasi Pascasarjana UI untuk memberi tahu bahwa program Republik Mimpi yang sekarang tampil dengan format bernama Benar-Benar Membangun (BBM) tersebut akan diputar di INPUT. Dalam e-mail tersebut, Graeme juga mengungkapkan, konferensi yang diikuti sekitar 1.000 delegasi itu bukan sebuah perlombaan, melainkan ajang yang sangat prestisius.Pasalnya , bisa masuk dan terpilih sebagai program yang akan diputar dan didiskusikan sudah merupakan penghargaan yang luar biasa. INPUT adalah salah satu konferensi pemutaran karya-karya televisi paling penting dan berpengaruh di seluruh dunia. Konferensi yang digelar setiap tahun ini dihadiri oleh produser, kritikus, dan pemerhati program TV di dunia. �Yang diputar dan didiskusikan di sini hanyalah ‘the most outstanding, innovative or controversial programs from over the world over the previous year’,�ujar Graeme. Effendi menyambut baik apresiasi dari dunia internasional terhadap program Republik Mimpi. Menurut dia, ini adalah bukti bahwa ukuran- ukuran kualitatif yang dikembangkan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI),Yayasan SET Garin Nugroho, The Habibie Center diakui dunia internasional. Seperti diketahui, programRepublik Mimpi terpilih sebagai salah satu acara TV versi Rating Kualitatif oleh Yayasan SET, The Habibie Center, sejumlah LSM, pemerhati TV, dan pendidikan pada 2008. �Ini bukan terpilih serta diapresiasi karena sistem rating yang tidak diaudit atau oleh adu banyak SMS,� ujar Effendi. Dia menuturkan, tim Republik Mimpi akan diwakili oleh Tim Asosiasi Pascasarjana Komunikasi UI beranggotakan beberapa pakar komunikasi untuk menyaksikan pemutaran dan diskusi BBM di Polandia pada 10—15 Mei 2008. Menanggapi apresiasi dunia internasional itu,para pemain Republik Mimpi,seperti Butet Kartaredjasa, Kelik Pelipur Lara, dan Denny Chandra justru tengah sibuk mempersiapkan BBM episode malam ini. Di episode ini akan menampilkan calon presiden Prabowo Subianto. Rencananya Butet akan bermain double- casting sebagai Presiden Si Butet Yogya yang baru sembuh sakit perut dan sebagai mantan Presiden Habudi (impersonator Habibie). �Yang lebih penting sekarang mempersiapkan episode Senin ini,16 Maret sebaikbaiknya. Tamunya hebat euy, Pak Prabowo, yang jarang tampil di TV!� kata para pemain Republik Mimpi. (maya sofia)

Thinking and Learning Together in Japan ”U IATSS FORUM

Posted by: mrbilly on: Maret 20, 2009

Think and learn about Southeast Asia and Japan in a variety of fields

Young Indonesian Professionals from a wide range disciplines are invited to join a 55 days

“Leadership Training Program”

47th IATSS Forum : April – June, 2010

48th IATSS Forum : September – November, 2010

Contents : Seminar, Group Study, Study Tour & Cultural Exchange Activity

Period : 55 days

Eligibility :

1. Posses physical and mental capabilities necessary to fully participate in program activities

2. No more than 35 years old on April 30th, 2009

3. Posses a University degree (S1) and at least two years of professional experience at the time of application and be eligible for reinstatement to his/her current position after completing the program

4. Demonstrate sufficient English skills and cultural adaptability to live and study abroad

5. Travel to Japan unaccompanied

Expenses :

All expenses associated with participation in the IATSS Forum Program including round-trip airfare, accommodation and incidental program expenses will be borne by the organizer. However, any expenses incurred through attendance at the final screening interview will be borne by the applicant.

Application Form and further information :

http://www.iatssforum.jp

susana.rosalia@astra-honda.com

susana.rosalia.n@gmail.com

Apply to :

IATSS Forum Indonesian Secretary

Secretary : Mrs. Susana Rosalia N.

c/o PT. Astra Honda Motor

Jl. Yos Sudarso, Sunter 1, Jakarta 14350, Indonesia

Closing Date : April 30th, 2009

Saya sebenernya sedih juga, membaca kisah david hartono wijaya….semoga Pemerintah Kita boleh lebih pro-aktif untuk mendorong terselesaikannya investigasi atas kasus ini walaupun peran Pemerintah Indonesia dibatasi oleh Pemerintah Singapura.

Pemerintah punya kewajiban untuk melindungi segenap warganya, apalagi aset bangsa seperti David Hartono Wijaya.

Banyak kejanggalan. ..kejanggalan yang mulai terkuak di balik kematian David Hartono, Sang Putera Bangsa yang harusnya menjadi aset bangsa yang BUKAN hanya kuliah saja di luar negeri, tapi juga menghasilkan penemuan yang Luar Biasa, yang kemudian harus kehilangan nyawanya karena hal tersebut.

Benar kata pepatah: “Kebenaran akan mencari jalannya sendiri untuk membuktikannya”

“They Want to Kill Me,” Teriak David, Darah Lalu Bersimbah

Sketsa 18 Maret 2009
Pertemuan saya dengan ayah David, Hartono Wijaya, hari ini mengindikasikan kuat pembunuhan. Riset David setelah terus saya verifikasi menajam; indikasi “rebutan” hak penemuan “ komponen” obyek 3 dimensi yang bisa tayang di udara, bisa juga berguna bagi televisi masa depan yang dapat ditonton kasat mata, tanpa kacamata khusus, laksana riset yang pernah dilakukan Lucas Art & Co. Inilah Sketsa ke-3 sebagai seorang literary citizen reporter, indikasi tentang kasus pembunuhan anak jenius, aset bangsa seharusnya.
SOSOK Hartono Wijaya berkacamata berkemeja lengen pendek bergaris biru berpantolan biru tua. Alur benang celana bagian pisak depannya melicin. Ada goresan seterikaan. Sepatu hitamnya bertelapak tipis. Penampilannya sederhana saat saya temui. Hartono adalah ayah kandung David Hartanto, mahasiswa Indonesia yang tewas di kampusnya di Nanyang Technology University (NTU), Singapura, pada 2 Maret 2009 lalu.
They want to kill me, they want to … kill me … they …”
Di menjelang ajal itu, David berteriak-teriak, “They want to kill me,” lalu lari terbirit-birit, di lantai tempat ia berkonsultasi dengan dosen pembimbing skripsinya, Prof., DR. Chan Yan Loek, 45 tahun, di jurusan Electrical Engineering.
Tak ada bala bantuan.
David ketakutan.
Bayangan kematian di depan mata.
Malaikat maut seakan menabal ajal.
Kampus bergengsi di pagi cerah mulai ramai namun sepai.
Di 2 Maret 2009, sekitar pukul 10 waktu Singapura, suasana senyap, ternyata telah mengantar tubuh David yang semula segar bugar lalu kelengar. Indikasi lehernya ditebas, lalu badannya dibuang, dijatuhkan dari lantai empat kampus, tempat segala ilmu dan kelimuan yang mengdepankan integritas itu terjadi.
Seorang wanita, pekerja di NTU melihat sosok David lari terbirit-birit. Ia mendengar jelas suara, “They wanto to kill me…” Tetapi ia tak menyangka sebuah permintaan tolong melolong.
Ia mengira, agaknya, hanya sebuah adegan bercanda.
Wanita itu menceritakan detik mencekam itu kepada Hartono Wijaya, pada 2 Maret 2009 petang di Singapura, di saat sosoknya berkunjung ke kampus NTU.
“Jika saya sebutkan nama wanita itu kepada Anda, akan dibunuh pula wanita itu kini,” ujar Hartono.
Indikasinya leher David ditebas pisau. Darah berceceran di tangga, sebagaimana foto tetesan darah yang sedang dibersihkan yang telah dikirim oleh seorang blogger di Singapura kepada saya. Foto itu kini juga beredar di internet, Facebook, dan menjadi potongan video visual yang dibuat oleh Christovita Wiloto.
Kalimat David lari terbirit-birit dengan nada ketakutan itu diceritakan Hartono dengan mata berkaca-kaca.
Saya lalu meminta tolong ayah David ini mendeskripsikan jasad anaknya ketika pertama kali melihat.
Ditemani oleh pihak Kedutaan Indonesia di Singapura pada sore, 2 Maret 2009, oleh pihak kepolisian ia tak diperbolehkan melihat jasad David. Alasannya masih dalam otopsi.
“Keesokan harinya saya kembali.”
“Anak saya badannya dililit plastik, dibalut macam mumi plastik bening.”
“Tetapi saya melihat lehernya diplester, ada tiga baris plester.”
Demikian paparan Hartono kepada saya.
Saya berjumpa Hartono di sela-sela diskusi yang diadakan oleh Christivita Wiloto, Selasa, 17 Maret 2009, pukul 13.30. Chris membuat pertemuan diskusi sekalian memberikan penghargaan kepada penulis resensi bukunya, Behind Indonesia Headlines, dalam sebuah diskusi bertopik Membangun Citra Positif Indonesia Melalui Pemberitaan Media. “Mengapa media di Indonesia hanya mengutip saja keterangan media di Singapura, bahwa David memutus nadi, melompat bunuh diri,” ujar Christovita membuka diskusi.
Bisa saya maklumi Hartono enggan menyebut wanita saksi mata itu.
Toh, empat hari setelah kematian David, sosok Zhou Zheng, peneliti, yang di saat hari kematian David turut hadir di ruangan Prof Chap Yan Loek, mati gantung diri.

Christovita membuat sebuah film presentasi bahan yang dikumpulkan di forum Straits Time.. Kumpulan foto kematian David; deretan kejanggalan, seperti dua tulisan saya sebelumnya, sudah beredar di banyak milis, blog , di Facebook, kini.
Di tanggal 3 Maret, kedua orang tua David di Singapura, diminta membuat keputusan cepat, mengkremasi jasad atau membawa pulang ke Indonesia.
“Entah mengapa kala itu, dalam keadaan kalut kami memutuskan mengizinkan kremasi,” kenang Hartono. Matanya berkaca. Seakan ada penyesalan di sana.
Pertanyaannya lalu, mengapa David dipatheni?
SAYA teringat akan pergumulan saya di dunia visual.
Sejak berhenti jadi wartawan di Majalah SWA pada 1989, saya kemudian membuka usaha sendiri, mulai dari graphic design hingga visual animasi. Bahkan pada 1993, saya memutuskan penuh berusaha bergerak di bidang animasi. Hingga 1996, usaha saya tutup, setelah menginvestasikan uang Rp 1,2 miliar, sebuah angka besar bagi saya – - karena diperoleh dari usaha sendiri dari nol. Saya membuat animasi 2D wayang, 3D wayang.
Dalam pergulatan yang membawa kerugian uang itu, mengantarkan saya kepada pengetahun piranti lunak dan kemampuan visual. Saya mengenal yang namanya aplikasi software animasi 3D; mulai dari Soft Image 3D, 2D, Toon, 3D Studio Max. Hardware mulai dari high end komputer Silicon Graphic yang dipakai untuk menjalankan aplikasi editing macam Inferno – - dulu di Jakarta dimiliki pertama oleh Post Office, perusahan post production (rumah paska produksi) milik Peter F. Gontha.
Pada 1997-1998, saya sempat pula bekerja di VHQ,rumah paska produksi visual milik Eric Lomas, orang Australia, warga Singapura. Ia juga berpartner dengan Media Development Authority (MDA) semacam BUMN-nya Singapura. Melalui MDA inilah, antara lain pemerintah Singapura memberi kemudahan Disney, bahkan Lucas Film membuka usahanya di Singapura, termasuk memberi iming-iming tax free
Lucas Art & Co, pernah melakukan riset tentang teknologi tiga dimensi (3D) visual untuk kepentingan iklan, yang mampu tampil di udara. Itu artinya, software animasi 3D, sederhananya, yang semula hanya bisa membuat model dan tayang di komputer atau cuma direkam ke format film dan video, lalu bisa ditayang di udara.
“Seingat saya pada 2006 Lucas Art & Co, sudah pernah mempublikasikan rencana riset mereka soal itu, “ ujar Vidiyama Sonnekh, praktisi teknologi informasi di Jakarta.

“Semacam hologram tiga dimensi yang bisa hidup di udara.”
“Dulu kami pernah mau menawarkan teknologi itu sebagai suplier ke kelompok usaha Djarum yang sedang membangun Grand Indonesia. Cuma, kala itu masih mahal, proyektornya saja satu US $ 20 juta,” kata Vidiyama.
Nah harga mahal itu pastilah berkait ke riset panjang dan mahal.
“Nah jika ada mahasiswa yang melakukan riset dan menemukan teknologi yang lebih murah, logikanya, bisa merugikan industri?” ujar Vidi.
Judul penelitian David Hartanto: “Multiview acquisition from multi-camera configuration for person adaptive 3D display 3D Rekonstruski Dari CCTV, Syarat Utama Pendukung Intelligent Video Surveillance System.”
Dari latar pemahaman animasi dan software, latar bekerja di perusahaan post, lalu mengetahui riset Lucas Art dari Vidiyama, serta membaca judul skripsi David, plus mendapatkan email dari blogger di Singapura, juga mengakuan sosok gadis bernama Angel, mahasiswi yunior David di NTU, maka saya menduga, bahwa penemuan David adalah: Kemampuan membuat gambar visual tiga dimensi yang bisa tayang ke udara, khusus untuk teknologi intelijen, di mana sosok orang digital bisa diprogram masuk ke ruang tertentu dipantau melalui kamera CCTV, gerakannya dipandu pemindai gerak (motion capture); dapat mengirim data, suara, layaknya manusia benaran yang sedang kita perintah bekarja.
Jika benar demikian, hebat. bukan.
Jika benar itu yang ditemukan, menurut Vidi, implementasinya bisa macam-macam. “Kita bisa saja mengganti resepsionis di kantor dengan orang 3D, bukan manusia utuh,” ujar Vidi.
Saya lalu menghayal membayangkan teknologi hologram dalam film Star Trek, yang kini memang mulai banyak dilakukan riset visualnya oleh Amerika Serikat. Riset itu juga berupaya mengembangkan televisi masa depan, antara lain agar publik dapat menonton teve tiga dimensi di udara tanpa lagi menggunakan kacamata khusus.
Ketika di risetnya 70%, sesuai penuturan Angel, sebagaimana sudah saya tulis di Sketsa saya kedua soal David, profesor-nya tidak yakin David mampu. “Jika kamu bisa, kamu akan dapat Nobel,” ujar Angel, mengutip David. Gadis itu penasaran atas kesibukan David selama dua pekan menyelesaikan tugas akhir yang tak mau diganggu. Ia lalu menmgunjungi David dan mendapatkan keterangan demikian.
Pada pagi sebelum berangkat ke kampus, David sudah memeindahkan data skripsinya ke flash-disk. Juga mebawa note book-nya dalam ransel, plus bekal minuman air putih dalam botol besar.
“Sesuai dengan info kawan-kawanya di Singapura yang saya terima, hari itu skripsinya sudah samapi 90% final,” ujar Hartono Wijaya, sang ayah..
Malang tak dapat diduga, kampus yang seharusnya menjadi wadah para ilmuwan yang berdedikasi kepada keilmuan dan kejujuran, sebaliknya justeru kini meninggalkan tanda tanya besar. Jika indikasi pembunuhan memang kini menguat, riset jitu anak penggemar game dan visual itu pun diduga kuat sesuatu yang sangat berarti.
Pertanyaaan, mengapa David harus mati?
Hingga di sini adalah tugas jurnalisme perlu melakukan verifikasi terus-menerus menjadi penting.
“Saya sangat menyayangkan mengapa KBRI kita di Singapura diam saja. Tidak bersuara?” ujar Constant Marino Ponggawa, anggota komisi I DPR RI, 2004-2009.
Ketika saya desak dengan pertanyaan, mengapa DPR tak menekan pemerintah RI menyampaikan tekanan penyidikan tuntas terhadap pemerintah Singapura?
“Ini waktunya sedang tak pas. DPR sedang reses.” kata Constant.
Constant tak habis pikir, mengapa pemerintah diam, “Apa ini karena sosok yang tewas kalangan minoritas?”
Bila saya menjawab Constant, maka dengan berat hati saya tuliskan kembali bahwa penghargaan negara terhadap nyawa memang rendah-rendah saja. Saya mengulang menuliskan bahwa tiga pekan lalu seorang wanita bernama Devi, di Pamulang, Banten, koma usai diperkosa, rumah sakit tidak bisa menerima karena tak ada identitas dan kartu miskin, dirawat sekenanya di pos ronda lima hari oleh warga, lalu mati begitu saja.
Negara?
Entah di mana!
Di banyak kasus menimpa TKI kita di luar negeri, dilecehkan, dihamili bahkan mati, sebagaimana dipaparkan Christivita Wiloto, negara juga seakan entah di mana?
Makanya jika seorang anak pandai, brilian pula otaknya, lalu kemudian dibunuh, dan opini media sedunia dibangun bahwa, anak mahasiswa Indonesia penusuk dosen?
Pembunuh!
“Maka celakalah kita,” ujar Christovita.
Di saat anggota DPR reses, di saat pejabat pemerintahan bercuti lalu berkampanye, di saat para Caleg menghitung kocek, kematian satu nyawa, bisa jadi terlupakan lagi oleh pengelola negara. Padahal di kematian David, bisa jadi sesungguhnya menyangkut nama besar bangsa diindikasikan dirusak, sekaligus “dihina”. Sudah sejak lama anak-anak pintar negeri ini diimingi bea siswa, lalu setelah tamat otaknya guna membangun bangsa orang..
Inilah tragedi di bangsa yang menghamburkan dana dalam lima tahun ini mencapai Rp 1.000 triliun, untuk kepentingan Pemilu, Pilkada, Partai dan pengeluaran perorangan partai, namun alpa akan sisi kemanusiaan yang kian hari seharusnya: kian beradab..
“Sebagai orang tua, Pak Hartono tak mungkin meminta nyawa anaknya kembali.. Tetapi minimal ada pembuktian, bahwa anaknya mati bukan karena menusuk dosen,” ujar Christovita. ***
Iwan Piliang, Literary Citizen Reporter, blog-presstalk. com

Kristison, Menjadi Dokter Gigi karena Pulsa

Posted by: mrbilly on: Maret 18, 2009

Kristison Simbolon tak hanya bisa meraih gelar dokter gigi pada April 2008, tetapi ia juga dapat membiayai kuliah dua adik dan lima karyawannya. Tahun ini dia membiayai kuliah tiga karyawan lainnya. Semua itu dari hasil usahanya berjualan pulsa, dengan keuntungan yang mencapai Rp 30 juta per bulan.

Kris, panggilannya, memiliki tujuh kios telepon seluler dan 14 karyawan. Ia juga menitipkan beberapa barang dagangan kepada belasan kios milik teman-teman dengan sistem konsinyasi. ”Saya tak pernah membayangkan bisa hidup cukup seperti sekarang,” kata lulusan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran, Bandung, ini. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Bandung tahun 1998, ia paham betul tak bisa hidup berkecukupan. Orangtuanya adalah petani yang hanya mampu memberi dia bekal Rp 1 juta untuk biaya pendaftaran dan administrasi kuliah. Ia hanya mengantongi sisa uang sebesar Rp 200.000, dan tak ada lagi dana kiriman dari kampung. Untuk bertahan hidup sehari-hari, Kris berjualan mi instan untuk teman-teman di asrama yang lembur mengerjakan tugas kuliah. ”Mereka malas mencari makan ke luar asrama,” katanya. Selain itu, ia juga menjual bolpoin untuk teman-teman sekampus. Kris juga bekerja sebagai penjaga tempat penyewaan VCD di bilangan Jatinangor, Sumedang, tak jauh dari lokasi kampusnya. Upahnya waktu itu Rp 2.500 per hari. Setelah sekitar setahun bekerja sebagai penjaga penyewaan VCD, Kris memahami seluk-beluk pemasaran sekaligus jaringan distribusi VCD. Tahun 2000 ia mendirikan tempat penyewaan VCD sendiri karena animo mahasiswa menyewa VCD relatif tinggi. Ketika itu ia hanya punya modal Rp 800.000, sedangkan untuk sewa tempat setahun saja diperlukan Rp 4 juta. Tak kehabisan akal, ia berusaha meyakinkan si pemilik tempat agar diperbolehkan membayar sewa dengan mencicil. Dikurangi uang muka sewa tempat dan peralatan lain, Kris hanya mampu menyediakan 30 keping VCD untuk disewakan. Namun, dalam tempo tiga bulan, ia bisa menyediakan ratusan keping VCD. Bisnis pulsa Ketika penggunaan telepon seluler merambah kampus, Kris melihat peluang bisnis baru. Jadi sejak 2003 dia menyisihkan keuntungan penyewaan VCD sebesar Rp 300.000 per bulan untuk modal berjualan pulsa. Hari demi hari, nama Kris mulai tenar di kampus sebagai penjual pulsa. Bahkan sebagian dosennya pun menitipkan uang (deposit) pulsa mulai dari Rp 100.000 hingga Rp 200.000. ”Dosen-dosen yang juga dokter itu kan sibuk. Mereka mungkin berpikir, daripada harus parkir mobil dulu hanya untuk membeli pulsa, lebih baik beli pulsa lewat saya saja. Caranya gampang, tinggal SMS atau telepon,” katanya. Tidak hanya di kampus, Kris juga menerapkan teknik berjualan pulsa yang sama di beberapa rumah sakit sewaktu dia mendapat tugas praktik. Model pembelian pulsa seperti ini ternyata sangat menguntungkan. Uang deposit yang dititipkan kepadanya mencapai Rp 1,5 juta per bulan. Dana ini lalu dia manfaatkan sebagai modal mengembangkan usaha pulsa. Saat menjalani tugas co-asisten dokter gigi pada akhir 2003, dia pindah indekos di daerah pusat Kota Bandung. Pada masa itu ia mengembangkan usaha dengan mendirikan kios pulsa di kawasan Geger Kalong Tengah. Dari tempat itu, usahanya makin berkembang, hingga dia bisa memiliki 10 kios pulsa dan mempekerjakan 14 karyawan. Di samping itu, dia juga menitipkan sebagian barang dagangannya ke belasan kios milik orang lain. Membantu mahasiswa Pundi-pundi Kris kian menggemuk, tetapi ia tak lupa pada masa sulit pada awal kuliah. Ia bertekad ”berbagi” dengan mahasiswa dan orang lain yang kesulitan keuangan. Dia lalu meminjamkan tiga sepeda motor kepada mahasiswa yang ingin bekerja dengannya. Para mahasiswa ini membawa voucher pulsa dan nomor perdana telepon seluler untuk dijajakan di tempat-tempat ramai, seperti Pasar Kaget Gasibu dan Alun-alun Kota Bandung. Kawasan jelajah mereka pun makin luas hingga ke Lembang. Dalam sehari setiap mahasiswa tersebut bisa memperoleh keuntungan lebih dari Rp 10.000. Dengan caranya sendiri, Kris juga membantu organisasi nirlaba yang membutuhkan dana. Ia menyuplai puluhan, bahkan ratusan, nomor perdana atau voucher pulsa untuk dijual para anggota organisasi tersebut. Keuntungan dari usaha ini sepenuhnya menjadi hak si penjual. Sukses sebagai pengusaha dan meraih cita-cita sebagai dokter gigi, berbagai penghargaan lalu menghampirinya. Pada 2006, misalnya, Kris mendapat hadiah dari operator telepon seluler XL berupa tamasya gratis ke China dan Hongkong. Tahun 2008 dia memperoleh penghargaan sebagai Penjual Nomor Perdana Telkomsel Terbaik dan juara Red Outlet Competition (ROC) Telkomsel Bandung, Cianjur, dan Sumedang, Jawa Barat. ”Saya sebenarnya bukan orang yang mempunyai bakat berdagang atau berbisnis. Keadaanlah yang memaksa saya untuk bertahan dan berusaha terus agar kita bisa hidup, syukur-syukur dapat membantu orang lain,” katanya. Maka, Kris tak pelit berbagi pengalaman usaha, kepada para karyawannya sekalipun. Ia justru merasa perlu meyakinkan mereka untuk terus mengoptimalkan potensi diri, termasuk di bidang pendidikan formal. Itulah mengapa dia tak ragu membiayai lima karyawan yang bertekad menyelesaikan kuliah, dan tiga orang lainnya tahun ini menyusul masuk perguruan tinggi. Soren (21), salah seorang karyawannya, merasa beruntung bisa bekerja dengan Kris. Dia dapat bekerja sambil tetap kuliah. Kini ia masuk semester empat pada Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Universitas Pendidikan Indonesia. Padahal, sebelumnya dia sempat bingung setelah gagal kuliah melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). ”Waktu itu saya pikir tak mungkin bisa kuliah karena tak punya cukup dana untuk membiayai kuliah di perguruan tinggi yang semakin mahal,” ujar Soren. Kris selalu menanamkan keyakinan kepada semua karyawan bahwa tak ada yang mustahil bisa diraih. ”Saya sendiri bisa menjadi dokter gigi karena gigih berusaha dan tak malu berjualan pulsa,” katanya memberi contoh. Satu lagi obsesi Kris yang diharapkan bisa terwujud tahun 2009 ini. Dia ingin membangun klinik kesehatan di Kecamatan Parongpong, sebuah daerah pelosok di kawasan Kabupaten Bandung Barat. Mengapa? ”Karena warga Parongpong yang sakit baru bisa menikmati pelayanan kesehatan yang layak di Kecamatan Lembang atau di Kota Cimahi, yang jaraknya sampai 15 kilometer hingga 20 kilometer dari Parongpong.” ”Saya berharap mereka bisa memperoleh pelayanan kesehatan yang murah, mudah, dan dekat. Apalagi beberapa teman yang juga dokter sudah siap membantu,” kata Kris. Biodata Nama: Kristison Simbolon Lahir: Barisan Sidikalang, Sumatera Utara, 15 Februari 1980 Orangtua: T Simbolon dan R Br Silaban Pendidikan: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Bandung, 2008 Penghargaan antara lain: – Penjualan Terbaik Perdana Telkomsel, 2008 – Penjual Nomor Perdana Berprestasi versi Operator 3, 2009

Dari Kompas Edisi Cetak, 16 Maret 2009

Penulis: Mohammad Hilmi Faiq

Bagi para blogger, tolong sebarkan info ini yah!!

Foto ITB di bagian depan

Foto ITB di bagian depan

Apa Itu Program “ITB Untuk Semua”?

Program “ITB Untuk Semua” adalah suatu skema penerimaan mahasiswa baru
Institut Teknologi Bandung yang secara khusus menyediakan bangku
kuliah bagi para lulusan sekolah menengah umum dari keluarga yang
tidak mampu secara ekonomi (penghasilan kedua orang tua di bawah atau
sama dengan Upah Minimum Regional setempat). Uang pendidikan, ongkos
tempat tinggal, dan biaya hidup selama menempuh kuliah di Bandung akan
didanai beasiswa “ITB Untuk Semua”. Sekitar 100 bangku kuliah
disediakan secara khusus bagi para lulusan SMU angkatan 2009 dari
keluarga yang tidak mampu secara ekonomi.

Para calon penerima beasiswa akan mengikuti Penelusuran Minat, Bakat,
dan Potensi ITB (PMBP) jalur beasiswa penuh. Sebelum kuliah, para
calon yang diterima akan mengikuti masa persiapan untuk membantu
penyesuaian diri dengan suasana kuliah serta kehidupan di Bandung.

Selama kuliah, para mahasiswa program “ITB Untuk Semua” akan mendapat
pembimbing khusus untuk membantu menyelesaikan kendala studi dan
mengatasi persoalan personal yang mungkin muncul selama menempuh
kuliah di ITB. Para mahasiswa juga akan diberi kesempatan mengikuti
ceramah-ceramah inspirasional, studi banding ke lokasi-lokasi
penerapan teknologi tepat guna, dsb. Para lulusan program “ITB Untuk
Semua” diharapkan kelak akan menjadi agen perubahan di daerah asal
mereka.

========
Persyaratan

Para calon penerima beasiswa “ITB Untuk Semua” harus memenuhi
persyaratan sebagai berikut:
• Calon lulusan sekolah menengah umum pada tahun ajaran 2009 (bidang
studi IPA untuk fakultas Sains dan Teknik).
• Berasal dari keluarga yang tak mampu secara ekonomi (penghasilan
kedua orangtua di bawah Upah Minimum Regional setempat)
• Memiliki prestasi akademik yang sangat baik.
• Aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler sekolah (lebih diutamakan yang
memiliki bakat memimpin)
• Mendapat rekomendasi dari kepala sekolah
• Bersedia mengikuti ujian penerimaan yang dilakukan ITB

========
Bidang Studi yang Dapat Dipilih

Fakultas/Sekolah yang dipilih oleh calon penerima beasiswa adalah sbb:
Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Fakultas Teknik Sipil dan
Lingkungan (FTSL), Fakultas Teknologi Industri (FTI), Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Fakultas Teknik Mesin
dan Dirgantara (FTMD), Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan
(FTTM), Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI), Sekolah
Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK), Fakultas
Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB), Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati
(SITH), Sekolah Farmasi (SF), dan Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM).

========
Cara Mendaftar

Kirimkan berkas formulir pendaftaran (pada halaman terakhir leaflet
ini, boleh di-fotocopy) dengan dilengkapi dokumen sbb:
• Fotocopy halaman depan rapor SMU dan halaman-halaman nilai (dari
semester I hingga V) yang telah dilegalisir pihak sekolah
• Surat keterangan berasal dari keluarga yang secara ekonomi tak mampu
dengan ditandatangani Ketua RT/RW (Yang dimaksud keluarga yang secara
ekonomi tak mampu adalah penghasilan kedua orangtua per bulannya di
bawah atau sama dengan Upah Minimum Regional setempat. Kami akan
melakukan survey lapangan secara random untuk mengetahui kondisi
keluarga calon mahasiswa)
• Surat dukungan/referensi dari kepala sekolah
• Tulisan 1 halaman kertas A4 (boleh diketik atau tulis tangan) yang
menjelaskan mengapa pendaftar ingin mengikuti program ”ITB Untuk
Semua”
• Tulisan 1 halaman kertas A4 (boleh diketik atau tulis tangan) yang
menggambarkan kondisi keluarga pendaftar [Misalnya, menceritakan
pekerjaan orang tua, kegiatan pendaftar di luar sekolah, kondisi
masing-masing anggota keluarga, dsb]

Berkas pendaftaran lengkap dimasukkan amplop coklat berukuran besar
dan dikirim ke:

Panitia Penerimaan Beasiswa ”ITB Untuk Semua”
Direktorat Pendidikan ITB
u.p. Kasubdit Penjaringan Mahasiswa/Ketua Lembaga TPB
Gd. CCAR ITB Lt.4
Jl. Tamansari 64 Bandung

Berkas paling lambat dikirimkan pada 20 April 2009 (cap pos)

========
Ujian Penerimaan

Panitia seleksi tahap awal program ”ITB Untuk Semua” akan melakukan
penilaian berdasarkan berkas yang masuk. Penilaian meliputi:
• Kemampuan akademik
• Motivasi (dilihat dari tulisan mengapa pendaftar ingin mengikuti
program ”ITB Untuk Semua”)
• Kondisi keluarga (dilihat dari tulisan kondisi keluarga pendaftar)
• Pengujian kebenaran data yang diberikan kepada pihak sekolah

Dari hasil penilaian tersebut, panitia tahap awal akan memanggil
(melalui surat) calon-calon potensial untuk mengikuti Ujian Saringan
Masuk (USM) jalur PMBP terpusat dan wawancara di kampus ITB di
Bandung. Seluruh biaya transportasi dan akomodasi selama ujian akan
disediakan oleh ITB. Ujian ini akan berlangsung pada 29 Mei- 31 Mei
2009.

Panitia akan mengumumkan penerima beasiswa (hanya calon potensial,
yang diterima yang akan dikirimi surat) pada pertengahan bulan Juni
2009. Penerima beasiswa akan berkumpul kembali di Bandung pada akhir
bulan Juni 2009 untuk mengikuti program penyesuaian diri.

Pada bulan Agustus 2009, penerima beasiswa ”ITB Untuk Semua” mulai
mengikuti perkuliahan di ITB.

========
Formulir Pendaftaran

Isilah formulir pendaftaran ini dengan huruf kapital (huruf besar) seluruhnya.
• Nama Lengkap: …………………………….. ………….
• Jenis Kelamin: L / P
• Sekolah: …………………………….. ………….
• Alamat: …………………………….. ………….
• Nomor Telepon (jika ada) *) : ……………………………..
………….
• Nama Orang Tua: …………………………….. ………….
• Pekerjaan Orang Tua: …………………………….. ………….
• Alamat Orang Tua: …………………………….. ………….
• Nilai rapor:
Matematika Semester 1: 2: 3: 4 5: 6:
Fisika Semester 1: 2: 3: 4 5: 6:
Biologi Semester 1: 2: 3: 4 5: 6:
Kimia Semester 1: 2: 3: 4 5: 6:
• Kegiatan Ekstrakurikuler: …………………………….. ………….
• Kegiatan Lain (di luar sekolah, jika ada) :
…………………………….. ………….
• Penghasilan Orangtua (per bulan, boleh perkiraan):
…………………………….. ………….
• Alamat Sekolah: …………………………….. ………….
• Nomor Telepon Sekolah: …………………………….. ………….
• Bidang Studi (di ITB) Yang Diminati **):
…………………………….. ………….

Tanda tangan pendaftar

Tanda tangan orangtua pendaftar

Tandatangan kepala sekolah

*) Atau nomor telepon orang terdekat yang dapat dihubungi
**) Lihat di bagian Persyaratan

If you have difficulty understanding the current world financial situation, the following should help–

Once upon a time in a village in India, a man announced to the villagers that he would buy monkeys for $10.

Village in India

Village in India

The villagers seeing there were many monkeys around, went out to the forest and started catching them. The man bought thousands at $10, but, as the supply started to diminish, the villagers stopped their efforts.

The man further announced that he would now buy at $20. This renewed the efforts of the villagers and they started catching monkeys again. Soon the supply diminished even further and people started going back to their farms.

The offer rate increased to $25 and the supply of monkeys became so little that it was an effort to even see a monkey, let alone catch it! The man now announced that he would buy monkeys at $50!

However, since he had to go to the city on some business, his assistant would now act as buyer, on his behalf. In the absence of the man, the assistant told the villagers: ‘Look at all these monkeys in the big cage that the man has collected. I will sell them to you at $35 and when he returns from the city, you can sell them back to him for $50.’ The villagers squeezed together their savings and bought all the monkeys. Then they never saw the man or his assistant again, only monkeys everywhere!

Welcome to   Wall Street!!

sumber: milis info beasiswa

Ghent University Master grants for candidates from developing countries 2009-2010 This Ghent University programme provides master grants to candidates from developing countries who wish to obtain a master’s degree at Ghent University. The grants are available for all master programmes at Ghent University. They are awarded for the duration of the studies with a maximum of 2 years. In case of a two-year-programme the scholarship will only be paid for the full term if the student successfully completes the first year of the programme. The scholarship consists of an allowance of 964 euro per month plus the yearly tuition fee. For more information, you can contact: Liesbeth Vandepitte mORE INFO : http://myscholarshi p-info.blogspot. com/2009/ 03/ghent- university- master-grants- for.html Hedley Bull Scholarship 2009 for Master in International Studies at ANU College of Asia and the Pacific The Graduate Studies in International Affairs program offers up to four Hedley Bull Scholarships each year for full-time study in the Master of Arts (International Relations) commencing in semester one. Applicants must meet the admission requirements of the Master of Arts (International Relations). When applying for the MA (International Relations), eligible applicants for the Hedley Bull Scholarship should include a covering letter indicating their interest in being considered for the scholarship and making the case for being granted one. The covering letter together with the application for the MA (International Relations) (including transcripts and three academic references) will be considered as the full application for the scholarship. There is no need to provide a separate application. The scholarship provides a full-fee waiver for three full-time sessions (semesters). This amounts to 48 units of graduate coursework and a 24-unit thesis session. MORE INFO : http://myscholarshi p-info.blogspot. com/2009/ 03/hedley- bull-scholarship -2009-for- master.html MORE SCHOLARSHIPS * Ghent University Master grants for candidates from… * Hedley Bull Scholarship 2009 for Master in Interna… * Oslo Peace Scholarships 2009 in Master of Internat… * 2 PhD funded Studentships on Philosophy * PhD positions at University of Rome-Tor Vergata, I… * MPhil/PhD Law Studentships at University of London… * 2 PhD stipends in Psychology in the context of CYB… * ITRI Graduate Scholarship Program (Taiwan) * Post-Master and Postdoc positions at ORNL, USA * BSc and MSc Scholarships at Politecnico di Torino,… * PhD Studentship in Mechanical Engineering – Univer… * PhD Studentship – Institute of

Tawaran Beasiswa Fullbright Buat Papuan Citizen

Posted by: mrbilly on: Maret 16, 2009

kira-kira 2 minggu lalu saya mendapat email berikut ini:

From: Nurise <isye@aminef.or.id>
Subject: FULBRIGHT-FREEPORT MASTER’S DEGREE PROGRAM
To: chest_will@yahoo.com, billymr_explorer@yahoo.com
Date: Tuesday, 3 March, 2009, 2:18 PM

Dear Will and Billy Mambrasar,

Saya mendapatkan email anda dari PT. Freeport Indonesia. Berikut adalah informasi tentang beasiswa untuk jenjang S2 dan S3 bagi mahasiswa Papua dengan kualifikasi memenuhi standard dan diharapkan anda dapat mendaftar untuk program tersebut.

FULBRIGHT-FREEPORT MASTER’S AND DOCTORAL DEGREE PROGRAM

Beasiswa Fulbright untuk program Master dan PhD ditawarkan kepada penduduk Papua di bidang Metallurgy, Geology/ Geotechnical, Teknik Pertambangan, Teknik (Elektro, Sipil, Mesin), Komputer and Ilmu Kepemerintahan/Hubungan Internasional. Pelamar harus memiliki:

  • KTP Papua
  • gelar Sarjana (S1) untuk program Master dan S2 untuk program PhD dengan IPK minimal 3,0 (skala 4,00).
  • jiwa kepemimpinan.
  • pemahaman dengan baik kebudayaan Indonesia dan asing.
  • komitmen pada bidang studi pilihan.
  • komitmen pada pembangunan dan pengabdian di Papua.
  • kesediaan untuk kembali ke Papua setelah Program Fulbright selesai.
  • Minimum TOEFL 550 untuk program Master dan 575 untuk program PhD.

PENDAFTARAN

Pelamar beasiswa harus mengisi dan melengkapi formulir pendaftaran. Formulir yang sudah dilengkapi dapat dikirim melalui pos atau diantar langsung ke kantor AMINEF, Gedung Balai Pustaka, Lantai 6, Jl. Gunung Sahari Raya 4, Jakarta 10720.

Pendaftaran dapat diserahkan ke AMINEF sesuai batas waktu pendaftaran termasuk:

  • Formulir aplikasi yang sudah diisi. Disertakan pula Study Objective yang jelas dan ditulis rapi.
  • Fotokopi hasil tes TOEFL yang paling baru, masih berlaku dan kurang dari 2 tahun.
  • Satu surat rekomendasi dari atasan tempat kerja atau dosen di tempat belajar.
  • Fotokopi transkrip akademik (terjemahan bahasa Inggris).
  • Fotokopi kartu identitas (KTP atau paspor).

Terlampir formulir pendaftaran dan format surat rekomendasi.

Batas pengembalian formulir dan kelengkapannya adalah tgl 31 Mei 2009

Silakan kunjungi situs kami di www.aminef.or.id untuk mendapatkan informasi lebih rinci ttg program beasiswa lain yang kami tawarkan.

Kami tunggu lamaran anda.

Salam, Isye

wah, sempet tergoda juga untuk apply, tapi apa daya, sudah ada perjanjian kerja. Mungkin temen2 dan sodara2 lain yang memenuhi kualifikasi tersebut diatas bisa coba apply?? beasiswa fullbrigh termasuk prestisius juga hitungannya soalnya

Hampir bersamaan dengan ulang tahun kemerdekaan Indonesia, Dr Subchan, peneliti asal Indonesia, berhasil meraih prestasi bergengsi di Inggris. Bahkan, Departemen Pertahanan Inggris berminat mengembangkan robot dan piranti ciptaan timnya.

NURANI SUSILO, London

SIAPA sangka dari Swindon, sebuah kota kecil yang berjarak sekitar dua jam berkendara dari London, seorang anak bangsa, Dr Subchan, kini menjadi pembicaran di Inggris. Peneliti di Cranfield University, Shrivenham Campus di Oxfordshire, Inggris, bersama timnya dinyatakan sebagai pemenang Minister of Defense (MoD) Grand Challenge.

MoD Grand Challenge adalah lomba bergengsi untuk mencari teknologi terapan di dunia militer yang diselenggarakan oleh Kementerian Pertahanan Inggris. Subchan, pria yang lahir dan besar di Jombang, Jawa Timur, itu bersama Team Stellar mengembangkan Saturn (Sensing and Autonomous Tactical Urban Reconnaissance Network).

Saturn adalah semacam robot yang berfungsi mendeteksi ancaman musuh. Bukan sembarang robot. Ini adalah robot terpadu yang memiliki tiga komponen, baik di darat maupun udara, yang bisa mengidentifikasi kekuatan dan posisi musuh di medan pertempuran.

Tim Stellar adalah gabungan antara Cranfield University, Stellar Service Ltd, Blue Bear System Ltd, SELEX Sensors, dan Airborne System Ltd, TRW Conekt, dan Marshall Specialist Vehicles.

”Robot ini bisa menggantikan manusia untuk mengintai kekuatan dan posisi musuh, tanpa berisiko terlihat atau diketahui lawan,” jelas Subchan yang lulusan Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya (ITS) jurusan matematika 1994 itu kepada Jawa Pos kemarin.

Karena berbagai kelebihan itu, Subchan dan Team Stellar dinyatakan unggul dibandingkan peserta lomba yang lain. Andy Wallace, perwira militer dari Departemen Pertahanan Inggris, mengakui ingin mendapatkan produk teknologi yang membuat misi prajurit di medan tempur semakin aman.”Kami ingin tentara yang bertugas di lapangan makin aman dan keselamatan mereka terlindungi, ” kata Wallace kepada stasiun televisi BBC.

Dalam konteks perang modern, lanjut Wallace, produk teknologi seperti yang dikembangkan Subcham dan timnya memang sangat relevan. Medan yang asing dan sulit, membutuhkan piranti yang bisa sangat membantu prajurit tempur.

Robot yang dikembangkan Team Stellar ini terdiri atas dua pesawat kecil dan satu kendaraan darat. Semuanya tanpa awak. Wahana ini dilengkapi dengan sensor radar, panas, dan visual. Untuk menyelaraskan kerja ketiga robot ini, sekaligus menganalisis hasil yang didapat, dibuat semacam pusat mengendali terpadu.

Kepada Jawa Pos Subchan memaparkan, tiga komponen robot yang dikembangkan Team Stellar itu punya fungsi sendiri-sendiri yang saling menunjang. Pertama, pesawat tanpa awak yang terbang tinggi. Alat ini berfungsi memetakan wilayah dan mengetahui medan. Pesawat ini bisa mendeteksi kendaraan militer; tank, bahkan sniper (penembak jitu) lawan.

Namun, untuk bom pesawat, alat ini tidak bisa mendeteksi secara akurat. Itulah sebabnya dibuat robot kedua dan ketiga berupa pesawat tanpa awak yang terbang rendah dan satu robot darat (ground vehicle). Kedua robot terakhir ini lebih berfungsi untuk mengecek atau melakukan verifikasi terhadap temuan pesawat pertama yang terbang tinggi .

Subchan, yang menempuh master bidang applied matematics (S2) di Delft University of Technology di Belanda pada 1998-2000 ini terlibat di bagian desain dan pengembangaan kendaraan udara dan darat tanpa awak.”Ini memang pekerjaan yang sangat menguras tenaga dan otak,” kata pria kelahiran Jombang Mei 1971 itu.
bonek_or_inarUTO

Dia menceritakan, proyek robot militer ini dimulai sekitar pertengahan 2007. Selama kurang lebih setahun, Team Stellar yang menggabungkan beberapa perusahaan pertahanan dan Cranfield University itu mengembangkan dan menguji coba Saturn di lapangan. Uji coba dilakukan di beberapa tempat di Inggris.

“Proyek ini membuat saya sering ke lapangan dan menghabiskan waktu di alam terbuka. Kadang selama berhari-hari menyempurnakan Saturn,” kata anak kedua dari empat bersaudara pasangan Abdul Muin dan Djamilah ini.

Dalam enam bulan terakhir, hampir tiap minggu Subchan dan timnya ke lapangan menguji Saturn. Waktu yang terbatas memang menjadi salah satu kendala pengembangan Saturn. Bahkan, sampai babak final pun, masih ada beberapa masalah yang mengganjal.

”Pada proofing event (pembuktian produk) yang berlangsung selama lima hari, kami sempat khawatir karena sampai hari ketiga komunikasi antara stasiun pengendali di darat dan robot kendaraan tidak begitu bagus,” bpak lima orang anak itu. Untunglah pada hari keempat, persoalan bisa diatasi.

Menurutnya, salah satu tantangan yang harus dilakukan setiap tim adalah dalam waktu satu jam harus mendemonstasikan hasil temuannya di Village of Copehill Down, di Salisbury Plain, Wiltshire, Inggris. Yakni, sebuah perkampungan yang khusus dibuat untuk latihan militer. Kondisi perkampungan itu dibuat sedemikian rupa mirip dengan medan peperangan, lengkap dengan snipers, bom, tank, peluncur roket, hingga aktor yang berperan sebagai tentara lawan dan penduduk sipil.

Dalam tantangan seperti itu, robot peserta MoD Grand Challenge harus bisa membedakan mana yang ancaman dan mana warga sipil biasa.

”Saya sangat bersyukur bisa menang,” kata suami Ima Imadatul yang pernah empat tahun bekerja di IPTN (sekarang PT Dirgantara Indonesia) sebelum menjadi dosen ITS.

Subchan layak berbangga karena dari 11 tim yang mengikuti lomba ini hanya enam yang masuk babak final. Dan dari enam ini, Team Stellar menang dan berhak atas penghargaan begengsi RJ Mitchell Trophy. Tropi yang mengambil nama perancang pesawat Spitfire Fighter, pesawat tempur legendaris pada pertempuran Battle of Britain.

Penelitian pertahanan dan keselamatan sipil memang bukan dunia yang asing bagi Subchan. Cranfield University, tempat Subchan sekarang bekerja sebagai peneliti, memang memiliki studi pertahanan. Di sinilah dulu ia menyelesaikan S3 di bidang Guidance and Control (panduan dan kendali).”Berbagai proyek yang saya ikuti hampir semuanya memiliki kaitan dengan pertahanan,’ ‘ kata Subchan .

Setelah lulus doktor, Subchan meneruskan post doctoral pada Departement Informatics and Sensors pada universitas yang sama dengan bidang yang ditekuninya sekarang: decision making, data fusion, mission planning and control (bidang pengambilan keputusan, penggabungan data, dan perencenaan misi).
bonek_or_inarUTO

Ia mengaku tidak pernah membayangkan dan berencana menjadi peneliti militer. Tapi kuliah S3 di Cranfield University membuatnya menekuni penelitian dan pengembangan teknologi militer. Ia pernah meneliti ‘awan yang tercemar nuklir’. Bila semisal ada kebocoran di reaktor nuklir, Subchan membantu menentukan luas wilayah yang tercemar bahan berbahaya. Dari sini bisa ditentunkan warga di wilayah mana yang harus diungsikan karena kebocoran nuklir tersebut.

”Inilah yang membuat saya senang dan menikmati bidang saya. Ada hasil nyata yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan manusia,” kata Subchan yang juga sering menjadi pembicara pada forum pengajian di Swindon dan London.

Untuk masa depan Saturn yang ia kembangkan bersama Team Stellar, ia belum tahu persis kapan selesai dan dipakai oleh kalangan militer. Yang jelas, teknologi yang dipakai sangat kompleks dan membutuhkan dana yang besar.”Kalau dananya tersedia mungkin Saturn bisa hadir lebih cepat,” katanya.(el)